Kelas Iqra', usia TK dan SD kelas 1

Anak-anak dibimbing sungguh2, belajar baca Al-Qur'an dari NOL, mulai dari mengenal HURUF. Pengajaran Semi Private. Sambil menunggu temannya, setiap anak haruf aktif membaca sendiri2. Yg sudah diajari juga harus mengulang2 bacaan. Tidak boleh behennti. Tidak ada istilah CAPEK.

Belajar Menulis Arab dan Menghafal

Tidak hanya belajar membaca, juga belajar menulis Arab, belajar menghafal dua kalimat syahadah, doa-doa, kalimat2 thoyyibah, dsb.

Mereka Tabungan Akhirat Kita

Mereka adalah tabungan akhirat kita. Dunia adalah tempat bercocok tanamnya akhirat. Semoga mereka menjadi anak-anak yang sholeh-sholehah, yang paham ilmu agama Islam dan bisa mengajarkannya. Menjadi kebanggaan Rasulullah, kebanggaan guru dan orang tuanya. Berguna dimanapun berada. Amin.

Safinatun Najah dan Sullamut Taufiq

Dua kitab wajib sebagai mata pelajaran. Safinah untuk fiqih dasar dan Sullam yang berisi Aqidah/Tauhid, Fiqih dan Akhlaq sebagai lanjutan. Disamping pelajar lain seperti Aqidatul Awam (aqidah), Alala (akhlak) dan Tajwid.

Ngaji Subuh khusus Fiqih

Semoga program ngaji shubuh ini bisa terus berlanjut dan istiqomah dan mendapat dukungan dari para orang tua (wali). Banyak sekali manfaat dan berkah di waktu shubuh.

Dibuka Pendaftaran Ngaji Kapan Saja

Bisa daftar ngaji kapan saja, yang penting ada niat sungguh-sungguh ingin belajar atau mendidik anak.

Minggu, 01 Mei 2022

SEJARAH KETUPAT

SEJARAH KETUPAT

Adalah Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat Jawa. 

Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali BAKDA, yaitu bakda Lebaran dan bakda Kupat yang dimulai seminggu sesudah Lebaran.

Arti Kata Ketupat.

Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau KUPAT merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat.
Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan.
Laku papat artinya empat tindakan.

Ngaku Lepat.

Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang jawa.
Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.

Laku Papat.

1. Lebaran.
2. Luberan.
3. Leburan.
4. Laburan.

Lebaran.
Sudah usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. 

Luberan.
Meluber atau melimpah, ajakan bersedekah untuk kaum miskin.
Pengeluaran zakat fitrah.

Leburan.
Sudah habis dan lebur. Maksudnya dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Laburan.
Berasal dari kata labur, dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding.
Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya.

FILOSOFI KUPAT - LEPET

KUPAT
Kenapa mesti dibungkus janur? 
Janur, diambil dari bahasa Arab " Ja'a nur " (telah datang cahaya ). 
Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia.
Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki.
Kenapa? karena hatinya sudah dibungkus cahaya (ja'a nur). 

LEPET
Lepet = silep kang rapet.
Mangga dipun silep ingkang rapet, mari kita kubur/tutup yang rapat.
Jadi setelah ngaku lepat, meminta maaf, menutup kesalahan yang sudah dimaafkan, jangan diulang lagi, agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya ketan dalam lepet.

Betapa besar peran para wali dalam memperkenalkan agama Islam. Umat muslim sudah seharusnya memuliakan budaya atau ajaran yang telah disampaikan para wali di Indonesia ini.
🙏🏻❤️🇮🇩

Sabtu, 30 April 2022

TATA CARA MINUM KOPI MENURUT ABAH GURU SEKUMPUL

TATA CARA MINUM KOPI MENURUT ABAH GURU SEKUMPUL

Abah Guru Sekumpul adalah sapaan akrab KH.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjari. Beliau pernah mengijazahkan makalah Al-Imam Al-Quthub Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Athos yang berangkat dari sumber kitab As-Shufiyatu Fil Mizaan.

Guru Sekumpul menukil keterangan dari gurunya Al-Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Athos, Beliau berkata: Sayyid Ahmad bin Ali-Qadimi bertemu dengan Rasulullah Saw dalam keadaan terjaga (yaquzhotan). Lalu beliau berkata: Wahai Rasululloh, aku ingin mendengarkan sebuah hadits darimu langsung, dengan tanpa perantara.
Rasululloh Saw menjawab: Aku mengajarkan kepadamu tiga hadits.

Pertama: Selagi aroma kopi masih melekat pada bibir atau mulut manusia, maka para malaikat akan selalu beristigfar (memintakan ampun) kepadanya.

Kedua: Siapa yang mengambil (membawa) tasbihnya untuk berdzikir, maka ditetapkan baginya termasuk orang yang banyak berdzikir (ahli dzikir), dia gunakan berdzikir atau tidak melakukan dzikir.

Ketiga: Siapa yang berkumpul atau se-majelis dengan waliyulloh (kekasih Alloh), baik dalam keadaan hidup atau sudah wafat, maka dia bagaikan menghamba kepada Alloh hingga bumi terbelah-belah (diampuni dosanya dan ditulis beribadah dari lahir sampai mati).

Dan lagi berkata Al-Imam Al-Quthub Al-Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Athos (Qoddasallahu sirrah): Sungguh semua tempat yang tidak dihuni manusia akan dihuni bangsa jin dan tempat yang dipakai buat ngopi tidak akan dihuni oleh bangsa jin, bahkan tidak akan didekati oleh mereka.

Apalagi waktu mau minum kopi disediakan dimajlis ilmu, lalu berniat (berdo'a apa yang dipinta) insyaAllah cepat dikabulkan, Ujar Abah Guru Sekumpul.

Kalam Al-Imam Al-Quthubul Akwan:

1. Sebelum minum kopi, hadiahkan dulu Al-Fatihah kepada Syekh Abu Bakar bin Salim, karna beliaulah yang pertama kali membawa kopi dan menanamnya di Indonesia hingga bisa dinikmati sampai sekarang, hingga jasa beliau sangat besar untuk para pecinta kopi serbuk khususnya.

2. Baca niat dalam hati: Sengajaku minum kopi mengambil berkat Syekh Abu Bakar bin Salim karna Alloh ta'ala.

3. Baca secara lisan: Nawaitus syifaa bibabrkatil muhammadurasulullah (Mustofa Saw). Insyaaallah jadi obat segala penyakit.

Insyaallah apabila kita rutin mengamalkan, mulut dan hati kita akan jauh dari membicarakan keburukan oranglain, mengumpat, menghina oranglain, yang ada selalu berdzikir dan bersholawat kepada Alloh & RasulullohNya. Wallahu'alam.

اللهم صلى على سيدنا محمد وعلى آله سيدنا محمد

Rabu, 27 April 2022

KISAH SEORANG SYARIFAH MISKIN

KISAH SEORANG SYARIFAH MISKIN

Diceritakan di dalam kitab Rasyafatus Shoodi. Ada seorang syarifah janda ditinggal wafat suaminya dan meninggalkan 3 orang anak perempuan.

Karena tak ada yang dimakan, Sang syarifah meminta pertolongan kesana kemari untuk memenuhi kebutuhan dia dan 3 orang anaknya. Sampai ketika melihat seorang guru besar Islam beserta para muridnya.

 Pada saat guru besar Islam itu diberitahukan oleh syarifah akan hal keadaannya maka sang guru berucap: "berikan aku bukti bahwa kau syarifah," sambil tidak mau memalingkan wajahnya ke arah syarifah.

Karena dicuekin, sang syarifah pun pergi dengan hampa. Lalu dia melihat ada seorang saudagar kaya yang sedang duduk. 

Sang syarifah bertanya "Siapa orang itu?" 
Maka dijawab: 

"Dia adalah seorang Majusi (penyembah matahari) yang menjadi pengurus kota ini. Karena terpaksa sang syarifah terpaksa minta bantuan kepada si majusi tersebut. Ternyata dia baik hati dan membantu syarifah dan anak-anaknya.

 Sehingga mereka disuruh bermalam di rumahnya dan makan makanan yang enak serta menginap dengan keadaan yang sangat lebih baik dari sebelumnya.
Pada malam itu sang guru besar Islam bermimpi. Dalam mimpinya dia melihat hari kiamat, dan melihat ada istana megah luar biasa di surga.

Kaum muslimin masuk surga atas perintah Rasulullah SAW. Akan tetapi Rasul berpaling muka atas sang guru besar Islam. Sang guru berkata: "Ya Rasulullah, kenapa engkau enggan memandangku padahal aku muslim?

Maka Nabi SAW menjawab: "berikan aku bukti bahwa kau memang muslim!" Sang guru-pun panik luar biasa. 

Kemudian Rasul SAW berucap: "Ingatkah engkau di dunia pernah berkata sedemikian pada cucuku".
Akhirnya sang guru terbangun dari tidur dan menangis dahsyat. Lalu bergegas menyuruh muridnya mencari sang syarifah ke penjuru kota.

Alhasil, sang guru tahu bahwa sang syarifah di tempat saudagar majusi. Sang gurupun bergegas kesana. Saat bertemu saudagar majusi, sang guru berucap: "wahai fulan, tolong serahkan si syarifah padaku. Aku mau memuliakan beliau.

" Si saudagar majusi menolak dan tidak mau menyerahkan sang syarifah. Kemudian sang guru besar memaksa saudagar majusi dan menawarkan sejumlah harta yang besar agar sang syarifah diserahkan padanya. Tapi sang saudagar tetap menolak. Akhirnya sang guru besar bercerita perihal mimpinya pada si saudagar majusi.

Saudagar berucap: "ketahuilah wahai guru besar. Sesungguhnya istana yang sangat megah yang kau lihat dalam mimpi itu kepunyaanku. Itu sebagai hadiah kecil yang diberikan padaku karena aku telah menolong sang syarifah serta anak-anaknya. Dan ketahuilah bahwa aku, istriku, anak-anakku, serta semua yang ada di rumahku telah bersaksi:

" LAA ILAAHA ILLALLAAH WA ANNA
MUHAMMADAR RASULULLAAH." Kami masuk Islam lantaran keberkahan yang dibawa syarifah. Dan di dalam mimpi Rasulullah SAW berkata padaku: "sesungguhnya engkau telah ditakdirkan sebaga muslim serta keluargamu."

Sang guru besarpun menangis terisak-isak dan sangat menyesali perbuatannya. Beginilah salah satu kisah dari sekian banyak kisah keutamjaan memuliakan para anak-cucu, ahlul bait Nabi SAW. 

۞ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞

Semoga kita semua termasuk orang yang dimuliakan oleh Allah lantaran punya cinta kepada Ahlul bait Rasulullah SAW...aamiin

Kemuliaan Akhlak Sayyid Muhammad Bin Alwi al-Maliki


۞ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 

Syeikh Abdul Qadir As-Sindi adalah tokoh Wahabi yang sangat membenci Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Ia pernah menulis artikel berisi fitnah kepada Sayyid Maliki yang kemudian dimuat di majalah Al-Jama'ah Madinah Al-Munawwarah.

Diantara isi fitnah tersebut adalah menuduh Sayyid Maliki sesat serta mengaku-ngaku sebagai keturunan Rasulullah Shollallahu 'Alaihi Wasallam.

Ketika artikel tersebut tersebar hingga ke beberapa negara, banyak ulama-ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah yang bereaksi dan meminta Sayyid Maliki untuk membuat pembelaan. Namun Sayyid Maliki membiarkannya tanpa membuat pembelaan.

Beberapa waktu kemudian, Sayyid Maliki mengajak beberapa muridnya untuk pergi ke Madinah dengan membawa uang banyak. Murid-muridnya tidak ada yang mengetahui untuk apa atau siapa uang tersebut.

Hingga sampai di suatu tempat, Sayyid Maliki turun membawa uang tadi menuju sebuah rumah. Beliau berjalan sendiri dengan menutup kepalanya menggunakan rida, sehingga sulit dikenali orang lain.

Sayyid Maliki lalu memberikan uang tersebut kepada sang tuan rumah. Tanpa mengenalkan dirinya, beliau pergi hingga akhirnya sang tuan rumah menyadari sendiri bahwa yang telah memberinya uang adalah Sayyid Maliki.

Sang tuan rumah yang tak lain adalah Syeikh As-Sindi, kemudian berlari mengejar Sayyid Maliki, lalu merangkulnya, menciuminya dan berkata, "Tuan tentu Sayyid Muhammad Al-Maliki. Sekarang aku yakin bahwa Tuan adalah keturunan Rasulullah, sebab tidak ada yang membalas cacian dengan hadiah, kecuali ia seorang keturunan Rasulullah."

Syeikh As-Sindi lalu meminta maaf, dan Sayyid Maliki pun memaafkannya. Semenjak itu Syeikh As-Sindi keluar dari faham Wahabi dan menjadi pengikut Sayyid Maliki.

Kisah diatas mengingatkan kita pada akhlak Imam Ali Zainal Abidin yang memberi hadiah kepada orang yang mencacinya. Orang tersebut menjadi malu dan bersaksi bahwa Imam Ali benar-benar seorang keturunan Rasulullah yang layak diikuti.

[Disadur dari kitab Al-Injaz Fi Karamatil Fakhril Hijaz karya Habib Mustafa Al-Jufri dengan beberapa penyesuaian.]

Selasa, 26 April 2022

Kemuliaan Akhlak Sayyid Muhammad Bin Alwi al-Maliki


۞ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 

Syeikh Abdul Qadir As-Sindi adalah tokoh Wahabi yang sangat membenci Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Ia pernah menulis artikel berisi fitnah kepada Sayyid Maliki yang kemudian dimuat di majalah Al-Jama'ah Madinah Al-Munawwarah.

Diantara isi fitnah tersebut adalah menuduh Sayyid Maliki sesat serta mengaku-ngaku sebagai keturunan Rasulullah Shollallahu 'Alaihi Wasallam.

Ketika artikel tersebut tersebar hingga ke beberapa negara, banyak ulama-ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah yang bereaksi dan meminta Sayyid Maliki untuk membuat pembelaan. Namun Sayyid Maliki membiarkannya tanpa membuat pembelaan.

Beberapa waktu kemudian, Sayyid Maliki mengajak beberapa muridnya untuk pergi ke Madinah dengan membawa uang banyak. Murid-muridnya tidak ada yang mengetahui untuk apa atau siapa uang tersebut.

Hingga sampai di suatu tempat, Sayyid Maliki turun membawa uang tadi menuju sebuah rumah. Beliau berjalan sendiri dengan menutup kepalanya menggunakan rida, sehingga sulit dikenali orang lain.

Sayyid Maliki lalu memberikan uang tersebut kepada sang tuan rumah. Tanpa mengenalkan dirinya, beliau pergi hingga akhirnya sang tuan rumah menyadari sendiri bahwa yang telah memberinya uang adalah Sayyid Maliki.

Sang tuan rumah yang tak lain adalah Syeikh As-Sindi, kemudian berlari mengejar Sayyid Maliki, lalu merangkulnya, menciuminya dan berkata, "Tuan tentu Sayyid Muhammad Al-Maliki. Sekarang aku yakin bahwa Tuan adalah keturunan Rasulullah, sebab tidak ada yang membalas cacian dengan hadiah, kecuali ia seorang keturunan Rasulullah."

Syeikh As-Sindi lalu meminta maaf, dan Sayyid Maliki pun memaafkannya. Semenjak itu Syeikh As-Sindi keluar dari faham Wahabi dan menjadi pengikut Sayyid Maliki.

Kisah diatas mengingatkan kita pada akhlak Imam Ali Zainal Abidin yang memberi hadiah kepada orang yang mencacinya. Orang tersebut menjadi malu dan bersaksi bahwa Imam Ali benar-benar seorang keturunan Rasulullah yang layak diikuti.

[Disadur dari kitab Al-Injaz Fi Karamatil Fakhril Hijaz karya Habib Mustafa Al-Jufri dengan beberapa penyesuaian.]

Senin, 25 April 2022

Inspirasi Ramadhan: Semua adalah Milik Allah

“Inspirasi” Ramadhan: semua adalah milik Allah (oleh Sayyid Hamid Bin Sayyidil Habib Umar Bin Hafidz, diterjemahkan oleh debu sandal mulia beliau Muhammad Ismael Al Kholilie) 

“Suatu hari seorang kaya yang baik dan dermawan bertemu dengan seorang miskin yang tidak memiliki apa-apa. orang baik itu kemudian mengajak si miskin ke rumahnya, ia memuliakannya dan menjamunya dengan aneka makanan dan minuman lezat. dan si miskin itu, setiap kali ia mengambil jamuan yang ada di hadapannya. ia mengambilnya dengan rasa malu, hatinya juga penuh dengan rasa sungkan. 

Hari demi hari berlalu, hingga akhirnya si miskin mulai terbiasa dengan jamuan dan penghormatan yang luar biasa itu. dan perlahan ia mulai lupa akan keadaannya di masa lampau, ia mulai tidak menyadari “status”-nya dulu sebagai si miskin yang bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa. Ia juga mulai lupa bahwa semua jamuan yang ia terima adalah murni pemberian dari tuan rumah yang sangat baik itu. karena sudah terbiasa, akhirnya ia mulai tidak malu-malu lagi, adabnya yang dulu penuh rasa hormat dan sungkan kini perlahan mulai hilang. Hingga akhirnya ia mulai mengira bahwa semua jamuan yang ada dihadapannya adalah miliknya, yang boleh ia perbuat semaunya. ia makan tanpa izin dari tuan rumah dulu, ia juga memberikan aneka makanan dan minuman itu kepada para temannya, sekali lagi tanpa izin dari tuan rumah.  

Ketika melihat sikap si miskin yang mulai tidak sopan, akhirnya si tuan rumah menghentikan jamuannya itu. si miskin, ketika melihat tuan rumah tidak lagi memberinya jamuan, ia akhirnya sadar dan kembali ke “akal sehat”-nya. ia mulai menyadari betul bahwa semua jamuan yang ada di hadapannya bukanlah miliknya, jika iya, tidak mungkin ia “dihalangi” dari semua itu. 

Di hari berikutnya, ketika melihat bahwa si miskin sudah mulai sadar. tuan rumah yang baik hati itu kembali mengeluarkan jamuan-jamuan lezat itu. dan si miskin kembali ke “keadaannya” yang semula, dimana ia menerima semua jamuan itu dengan rasa sungkan dan penuh adab. Karena rasa dan sikap kurang ajarnya dengan menganggap jamuan itu adalah miliknya kini hilang setelah satu hari saja jamuan itu dihentikan darinya. 

Kita semua datang ke dunia ini dalam keadaan tidak punya apa-apa.. kemudian Allah memberikan kita berbagai anugrah dan nikmatnya mulai dari harta, kesehatan, dan menumpahkan untuk kita nikmat-nikmat lainnya. Ketika seorang mu’min menyadari hakikat ini, maka ia akan merasa malu dan sungkan kepada Allah, yang membuatnya selalu menjaga adab dalam nikmat-nikmat yang Allah berikan. 

Akan tetapi “hijab terbiasa” seringkali menghalangi seseorang dari apa yang selama ini ia yaqini tanpa ada ragu sama sekali. Akhirnya ia mengira bahwa semua yang ia punya adalah mutlak hak miliknya. 

Ketika ia ada di lingkaran asumsi itu, datanglah bulan Ramadhan yang mencegahnya dari makan, minum dan hal-hal yang sudah menjadi kebiasaannya. yang menghalanginya dari hal-hal yang ia sukai selama ini. 

Akhirnya ia kembali sadar, dan mulai mengingat kembali hakikat yang selama ini ia lupakan bahwa apa yang ia punya selama ini sejatinya bukan miliknya. itu semua adalah murni pemberian Allah, murni Anugrah dari Allah, ia tidak memiliki apapun meski hanya sekecil biji sawi. 

Rasa lapar dan haus di terik siang bulan Ramadhan membuatmu paham, ketika air dingin dan makanan lezat ada di hadapanmu, dan semua itu engkau dapatkan dengan jerih-payahmu sendiri. Kemudian engkau hanya bisa melihatnya tanpa berani menyentuh satupun air atau anekan makanan itu, sedangkan rasa lapar sudah mulai mencubit perutmu. Mengapa ? Karena Pemiliknya yang sejati sekarang melarang dirimu untuk menyentuhnya.. 

Andai saja Allah yang mencegahmu dari semua itu bukanlah pemiliknya yang hakiki, maka larangannya atas dirimu akan menjadi ikut campur atau interfensi yang tidak penting, dan engkau tentu tidak akan mengindahkan larangannya. 
Akan tetapi engkau patuh dan tunduk kepada perintah-Nya, apakah itu semua tidak membuatmu sadar bahwa engkau dan semua yang kau miliki pada hakikatnya adalah milik Allah semata ? 

Engkau tidak mampu menikmati makanan itu di siang hari Ramadhan meskipun hanya sebutir nasi, karena sejatinya semua itu memang bukan milikmu, andai betul semua itu adalah hak milikmu maka tak kan ada satupun yang bisa melarangnya darimu..

Di bulan Ramadhan, beberapa saat sebelum maghrib engkau melihat orang-orang duduk mengelilingi aneka makanan dan minuman yang ada di depan mereka, dan tak ada satupun diantara mereka yang berani menyentuh semua itu, mereka hanya bisa memandangnya saja. seakan-akan mereka ada dalam sebuah jamuan dan mereka sedang menunggu tuan rumah berkata kepada mereka : silahkan.. makanlah.. 

Ya, mereka memang seperti itu. mereka menunggu pemilik jamuan itu memberi izin dan mempersilahkan mereka. dan Ia telah menjadikan terbenamnya matahari sebagai tanda dari izin-Nya. 

Apakah semua moment itu tidak membuatmu sadar bahwa selama ini engkau ada dalam jamuan agung Allah ? Yang Allah buka selebar-lebarnya untuk dirimu sepanjang tahun dan hanya Ia tutup dalam waktu yang sangat sebentar di bulan Ramadhan ? 

Apakah semua itu juga tidak cukup membuatmu sungkan dan malu kepada Allah ? Lalu bersyukur kepada-Nya dengan menggunakan nikmat-nikmat pemberian-Nya dalam hal-hal yang Ia Ridhoi ? 

Sepanjang tahun engkau tau bahwa barang yang ada di tangan orang lain bukanlah milikmu, dan engkau tidak boleh Menggunakan barang itu tanpa izin pemiliknya. akan tetapi di bulan Ramadhan engkau juga dipaksa mengakui bahwa semua yang engkau punya sekalipun sejatinya juga bukanlah milikmu. dan tak seharusnya engkau menggunakan semua itu kecuali dengan Ridho dan izin pemilik sejatinya yaitu Allah. 

Ya Allah berilah kami pertolongan untuk bisa memahami-Mu, dan karuniai kami adab yang sempurna kepada-Mu, dan sempurnakanlah bagian kami dari ibadah puasa kami, dan dari semua kebaikan yang kau berikan kepada hamba-hamba-Mu wahai Dzat yang Maha kuasa atas segala sesuatu 

( selesai diterjemahkan diatas ketinggian 6096 meter, dalam pesawat Garuda Indonesia, rute Jakarta-Surabaya 22 April 2022 )

Selasa, 12 April 2022

ULASAN TENTANG SIFAT 'ULUW ANTARA MAZHAB ASY'ARI DAN HANBALI || Tentang ISTIWAK

ULASAN TENTANG SIFAT ULUW ANTARA MAZHAB ASY'ARI DAN HANBALI 

Oleh: Gus Dodi ElHasyimi 

Kembali saya mengkritik tulisan Mbak Gayatri Fasya Jauhari ...... 🤣🤣🤣

Dia mengatakan madzhab Hanbali berbeda dalam memahami SIFAT ULUW dengan madzhab Asy'ariy, padahal sama aja pemahaman kedua madzhab ini, yang berbeda itu justru madzhab Wahabi Salafy dan madzhab Hanbali...... 🤣🤣🤣

Mari kita bandingkan Madzhab Hanbali (Syaikh Abdul Qadir) dan Madzhab Asy'ary (Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalaniy) :

Dibuktikan bahwa Madzhab Asy'ary juga berpendapat Allah memiliki sifat uluw (Maha Tinggi) oleh Ibnu Hajar Al Asqalani sama dengan Madzhab Hanbali :

Perbedaan antara uluw dan jihah adalah seperti dijelaskan oleh al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani al Asy'ari berikut:

وَلَا يَلْزَمُ مِنْ كَوْنِ جِهَتَيِ الْعُلُوِّ وَالسُّفْلِ مُحَالٌ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُوصَفَ بِالْعُلُوِّ لِأَنَّ وَصْفَهُ بِالْعُلُوِّ مِنْ جِهَةِ الْمَعْنَى وَالْمُسْتَحِيلُ كَوْنُ ذَلِكَ مِنْ جِهَةِ الْحِسِّ ³

"Kemustahilan arah atas dan bawah bagi Allah tidak berkonsekuensi bahwa Allah tidak disifati dengan sifat uluw (Maha Tinggi) sebab menyifati Allah Maha Tinggi adalah dari segi maknawi sedangkan yang mustahil adalah dari segi fisikal".

Kemudian Syaikh Abdul Qadir juga berpendapat sama :

وهو بجهة العلو مستو على العرش محتو على الملك محيط بعلمه على الأشياء

Dia berada di arah yang tinggi, istiwa' di atas arsy terkandung kekuasaan, meliputi dengan ilmunya atas segaka sesuatu.

Lalu apanya yg berbeda bila Madzhab Hanbali dan Asy'ary berkata kalo Allah sama-sama punya sifat uluw...??? 🤣🤣🤣

Saya buktikan lagi, ini perkataan ulama Asy'ariy :

Imam Gozali al Asy'ariy (w 505 H) :

ﻭﺃﻧﻪ ﻣﺴﺘﻮ ﻋﻠﻰ اﻟﻌﺮﺵ ﻋﻠﻰ اﻟﻮﺟﻪ اﻟﺬﻱ ﻗﺎﻟﻪ ﻭﺑﺎﻟﻤﻌﻨﻰ اﻟﺬﻱ ﺃﺭاﺩﻩ اﺳﺘﻮاء ﻣﻨﺰﻫﺎ ﻋﻦ اﻟﻤﻤﺎﺳﺔ ﻭاﻻﺳﺘﻘﺮاﺭ ﻭاﻟﺘﻤﻜﻦ ﻭاﻟﺤﻠﻮﻝ ﻭاﻻﻧﺘﻘﺎﻝ ﻻ ﻳﺤﻤﻠﻪ اﻟﻌﺮﺵ ﺑﻞ اﻟﻌﺮﺵ ﻭﺣﻤﻠﺘﻪ ﻣﺤﻤﻮﻟﻮﻥ ﺑﻠﻄﻒ ﻗﺪﺭﺗﻪ ﻭﻣﻘﻬﻮﺭﻭﻥ ﻓﻲ ﻗﺒﻀﺘﻪ

Dia beristiwa di atas arasy sebagaimana yang Dia firmankan, dengan Maksud yang Dia kehendaki, tanpa persentuhan, tanpa menempati benda, tanpa menetap di tempat, tanpa masuk pada benda, dan tanpa berpindah pindah. Allah tidak dipikul oleh arasy justru arasy dan malaikat pemikulnyalah yang dipikul oleh kelembutan kekuasaanNya dan dikuasai penuh dalam genggamanNya.

ﻭﻫﻮ ﻓﻮﻕ اﻟﻌﺮﺵ ﻭاﻟﺴﻤﺎء ﻭﻓﻮﻕ ﻛﻞ ﺷﻲء ﺇﻟﻰ ﺗﺨﻮﻡ اﻟﺜﺮﻯ ﻓﻮﻗﻴﺔ ﻻ ﺗﺰﻳﺪﻩ ﻗﺮﺑﺎ ﺇﻟﻰ اﻟﻌﺮﺵ ﻭاﻟﺴﻤﺎء ﻛﻤﺎ ﻻ ﺗﺰﻳﺪﻩ ﺑﻌﺪا ﻋﻦ اﻷﺭﺽ ﻭاﻟﺜﺮﻯ ﺑﻞ ﻫﻮ ﺭﻓﻴﻊ اﻟﺪﺭﺟﺎﺕ ﻋﻦ اﻟﻌﺮﺵ ﻭاﻟﺴﻤﺎء ﻛﻤﺎ ﺃﻧﻪ ﺭﻓﻴﻊ اﻟﺪﺭﺟﺎﺕ ﻋﻦ اﻷﺭﺽ ﻭاﻟﺜﺮﻯ

Allah di atas arasy di atas langit di atas segala sesuatu hingga dasar bumi. KetinggianNya tidak menambah semakin dekat kepada arasy dan langit, juga tidak membuatNya semakin jauh dari bumi dan dasar bumi. Akan tetapi Dia maha tinggi derajatnya dari arasy dan langit, sebagaimana Dia maha tinggi derajatnya dibanding bumi dan dasar bumi.

ﻭﻫﻮ ﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻗﺮﻳﺐ ﻣﻦ ﻛﻞ ﻣﻮﺟﻮﺩ ﻭﻫﻮ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻰ اﻟﻌﺒﺪ ﻣﻦ ﺣﺒﻞ اﻟﻮﺭﻳﺪ ﻭﻫﻮ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺷﻲء ﺷﻬﻴﺪ ﺇﺫ ﻻ ﻳﻤﺎﺛﻞ ﻗﺮﺑﻪ ﻗﺮﺏ اﻷﺟﺴﺎﻡ ﻛﻤﺎ ﻻ ﺗﻤﺎﺛﻞ ﺫاﺗﻪ ﺫاﺕ اﻷﺟﺴﺎﻡ

Meskipun begitu, Dia tetap dekat dengan segala sesuatu. Dia lebih dekat kepada hambanya melebihi dekatnya urat nadi. Dia menyaksikan segala sesuatu. Sebab, kedekatanNya berbeda sama sekali dengan kedekatan suatu benda. Sebagaimana zatNya sama sekali berbeda dengan zat benda.

ﻭﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺤﻞ ﻓﻲ ﺷﻲء ﻭﻻ ﻳﺤﻞ ﻓﻴﻪ ﺷﻲء ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻦ ﺃﻥ ﻳﺤﻮﻳﻪ ﻣﻜﺎﻥ ﻛﻤﺎ ﺗﻘﺪﺱ ﻋﻦ ﺃﻥ ﻳﺤﺪﻩ ﺯﻣﺎﻥ ﺑﻞ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﺧﻠﻖ اﻟﺰﻣﺎﻥ ﻭاﻟﻤﻜﺎﻥ ﻭﻫﻮ اﻵﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﻛﺎﻥ

Dia tidak masuk ke dalam sesuatu, dan tidak dimasuki sesuatu. (Tidak bertempat dan tidak ditempati). Maha Suci Allah. Tidak mungkin Dia dikelilingi oleh tempat (ruang), sebagaimana Dia maha suci dari dibatasi oleh waktu. Allah telah ada sebelum Dia menciptakan waktu dan sebelum dia menciptakan tempat. Saat ini Dia masih dalam keadaan yang sama (tidak bertempat dan tak dibatasi waktu).(Imam Al Gozali, Ihya' Ulumuddin, jilid 1, Hal. 332-333)

Sedang Syaikh Abdul Qadir al Jailani (w 561 H) mengatakan :

ولا يجوز عليه الحد ولا نهاية ولا قبل ولا بعد ولا تحت ولا قدام ولا خلف ولا كيف لأن جميع ذلك ما ورد به الشرع إلا ما ذكرناه من أنه على العرش استوى على ورد به القرآن والأخبار بل هو عز وجل خلق لجميع الجهات

Tidak boleh menetapkan batasan bagi allah, tidak Menetapkan batas akhir, tidak ada sebelumnya, tidak ada sesudahnya, tidak ada di bawahnya, tidak ada di depannya ,tidak ada di belakangnya dan tidak ada kaif (gambaran), karena semua itu adalah apa apa yg mana sesuai dengan syariat. kecuali apa yg telah kami sebutkan : sesungguhnya allah beristawa di atas arsy adalah berdasarkan apa yang datang pada al quran dan hadits hadits, bahkan dialah allah azza wa jalla Mencipta semua arah.(Abdul Qadir, Al ghunyah, Hal. 168)

Mari kita bandingkan pula dengan aqidah Asyariyah, seperti :

Imam Asy’ary (w 323 H) Tentang Istiwa Menafikan Makna Menguasai, Duduk dan Bertempat (Tinggal)

ولم يقولوا شيئا إلا ما وجدوه في الكتاب أو ما جاءت به الرواية عن رسول الله صلى الله عليه وسلم .. (٦)وقالت المعتزلة : إن الله استوى على عرشه بمعنى استولى ( ۷ ) وقال بعض الناس : الاستواء القعود والتمكن .

Dan Mereka(Ahlu Sunnah dan Ahli Hadis) Tidak Pernah Mengatakan Sesuatu kecuali Apa mereka Temukan Di dalam Al Quran atau yang datang Dalam Hadis Rasulullah Shollahu 'alaihi Wasallam (6) Berkata Muktazilah Sesungguhnya Allah Istiwa dengan Makna Menguasai (7) Berkata Sebagian Manusia Istiwa Itu adalah Duduk dan Bertempat (Imam Asy'ary, Maqalat Islamiyyin, Jilid 1, Hal. 185)

- Imam Asy'ary (w 323 H) Tentang Istiwa
 
فدل على أن الله تعالی منفرد بوحدانيته مستو على عرشه استواء منزه عن الحلول والاتحاد

Maka Ia Menunjukkan Bahwa Sesungguhnya Allah Ta'ala Sendirian Dengan Keesaannya Istiwa di Atas Arasy Maha Suci Ia dari Hulul(masuk ke dalam Suatu) dan Ittihad(Menyatu Dengan Mahluk).(Imam Asy'ary, Al Ibanah, Hal. 100) 

- Imam Asy'ary (w 323 H) Tentang Istiwa 

وأنه مستو على عرشه بلا كيف ولا استقرار 

Dan Sesungguhnya Dia Istiwa di Atas Arasynya Tanpa Kaif dan Tanpa Bertempat(Imam Asy'ary, Al Ibanah, Hal. 102)

Ternyata aqidah Asy'ariy sama dengan aqidah Al Imam Abu Ja'far Ath Thahawi (yang disepakati sebagai imamnya ahlus sunnah wal jamaah)

Al-Imam Abu Ja'far ath-Thahawi (w 321 H) berkata: 

"تَعَالَـى (يَعْنِي اللهَ) عَنِ الْحُدُوْدِ وَاْلغَايَاتِ وَاْلأرْكَانِ وَالأعْضَاءِ وَالأدَوَاتِ لاَ تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ" 

"Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang); tidak seperti makhluk-Nya".(Ath Thahawi, Aqidah Thahawiyah, Hal. 13).

Dalam permasalahan TAFWEEDH apakah madzhab Asy'ariy sama dengan Madzhab Hanbali ???? Ya sama aja, Tafweedh adalah mengimani lafadz-lafadz nash dan menyerahkan MAKNANYA kepada Allah/Nabi Muhammad shalllallaahu 'alaihi wa sallam, ini buktinya :

Dan Tafweedh dari ulama madzhab Asy'ariy :

- Imam al-Haramain Abu al-Ma'âlî al-Juwainî al Asy'ariy di dalam kitab beliau sendiri yang berjudul al-Aqîdah an-Nizhâmiyyah :

العقيدة النظامية ص 33
وذهب أئمة السلف على الإنكفاف عن التأويل، وإجراء الظواهر على مواردها، وتفويض معانيها إلى الرب تعالى

Para imam ulama Salaf berpendapat untuk menahan diri melakukan takwil dan menetapkan ZHAHIR sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Al Quran dan Hadis Sahih (mawarid) dan MENYERAHKAN MAKNA-MAKNA LAFAZH NASH SIFAT KEPADA ALLAH TA'ÂLÂ.

- Al Imam Nawawi al Asy'ariy di dalam kitab Syarhul Muslim mengenai Aqidah golongan pertama yaitu Aqidah mayoritas atau semua SALAF (yg berfaham tafweedh) adalah :

 أنه لا يتكلم في معناها 

Mereka TIDAK MEMBICARAKAN MAKNANYA (NASH2 SIFAT TSB)

http://islamport.com/d/1/srh/1/37/817.html

Sedangkan tafweedh dari ulama Hanbali :

- Syaikh Abdul Qodir al Jilani dalam Al Ghunyah pada halaman 86 berkata,

وما اشكل من ذلك وجب اثباته لفظا وترك التعرض لمعناه ونرد علمه الى قائله ونجعل عهدته على ناقله

“Sifat-sifat Allah yang musykil (mutasyabihat) wajib di itsbatkan secara LAFAZH dan menjauhi membahas maknanya serta mengembalikan maknanya kepada Pengucapnya (Allah atau Rasul-Nya) (TAFWIDH). Dan tanggung jawab diserahkan kepada yang menukilnya”.

Jadi kesimpulannya Syaikh Abdul Qodir al Jilani mengikuti Salafush Sholeh pada umumnya membiarkan khabar-khabar tersebut yakni membiarkan ayat-ayat mutasyabihat (banyak makna) terkait sifat Allah sebagaimana datangnya maksudnya MENGITSBATKAN (MENETAPKAN) berdasarkan LAFADZNYA dan menafikan makna secara bahasa artinya tidak menetapkan atau tidak memilih makna dzahir atau makna majaz dan TAFWIDH MAKNA yakni menyerahkan maknanya kepada Allah Ta'ala. 

- Menurut Syaikh Muhammad as-Safarini al-Hanbali diantara butir-butir akidah seluruh ulama Hanabilah, plus diklaim sama dengan akidah Salaf adalah:

فإذا ورد القرآن العظيم وصحيح سنة النبي الكريم - عليه أفضل الصلاة وأتم التسليم -، بوصف للباري جل شأنه؛ تلقيناه بالقبول والتسليم، ووجب إثباته على الوجه الذي ورد، ونكل معناه للعزيز الحكيم، ... الخ (لوامع الأنوار البهية وسواطع الأسرار الأثرية ج ١ ص ١٠٧)

"Apabila terdapat dalam al-Quran Adziim dan Sunnah Nabiyul Kariim -alaihish sholatu wa atammut tasliim- yang valid, menyifati Allah Yang Maha Pencipta, maka itu akan diterima dengan sepenuhnya, ditetapkan seperti apa adanya, dan kami menyerahkan MAKNANYA kepada Allah yg Maha Aziiz serta Hakiim..."
(Lawaami'ul Anwaar wa Sawaathi'ul Asraar Atsariyyah juz 1 hal.107)

- Al Imam Ibnu Qudamah Al Hanbali dalam Lum’atul I’tiqad :

ﻟﻤﻌﺔ ﺍﻻﻋﺘﻘﺎﺩ - ( ﺝ 1 / ﺹ 3 )
ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺑﻮ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻓﻲ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : « ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻨﺰﻝ ﺇﻟﻰ ﺳﻤﺎﺀ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ » ، ﺃﻭ « ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺮﻯ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ » ، ﻭﻣﺎ ﺃﺷﺒﻪ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻧﺆﻣﻦ ﺑﻬﺎ ، ﻭﻧﺼﺪﻕ ﺑﻬﺎ ﺑﻼ ﻛﻴﻒ ، ﻭﻻ ﻣﻌﻨﻰ ، ﻭﻻ ﻧﺮﺩ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻨﻬﺎ ، ﻭﻧﻌﻠﻢ ﺃﻥ ﻣﺎ ﺟﺎﺀ ﺑﻪ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺣﻖ ، ﻭﻻ ﻧﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻭﻻ ﻧﺼﻒ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺄﻛﺜﺮ ﻣﻤﺎ ﻭﺻﻒ ﺑﻪ ﻧﻔﺴﻪ ﺑﻼ ﺣﺪ ﻭﻻ ﻏﺎﻳﺔ } ﻟَﻴْﺲَ ﻛَﻤِﺜْﻠِﻪِ ﺷَﻲْﺀٌ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤِﻴﻊُ ﺍﻟْﺒَﺼِﻴﺮُ { [ ﺍﻟﺸﻮﺭﻯ : 11 ] ، ﻭﻧﻘﻮﻝ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ، ﻭﻧﺼﻔﻪ ﺑﻤﺎ ﻭﺻﻒ ﺑﻪ ﻧﻔﺴﻪ ، ﻻ ﻧﺘﻌﺪﻯ ﺫﻟﻚ ، ﻭﻻ ﻳﺒﻠﻐﻪ ﻭﺻﻒ ﺍﻟﻮﺍﺻﻔﻴﻦ ، ﻧﺆﻣﻦ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ ﻛﻠﻪ ﻣﺤﻜﻤﻪ ﻭﻣﺘﺸﺎﺑﻬﻪ ، ﻭﻻ ﻧﺰﻳﻞ ﻋﻨﻪ ﺻﻔﺔ ﻣﻦ ﺻﻔﺎﺗﻪ ﻟﺸﻨﺎﻋﺔ ﺷﻨﻌﺖ ، ﻭﻻ ﻧﺘﻌﺪﻯ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ، ﻭﻻ ﻧﻌﻠﻢ ﻛﻴﻒ ﻛﻨﻪ ﺫﻟﻚ ﺇﻻ ﺑﺘﺼﺪﻳﻖ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻭﺗﺜﺒﻴﺖ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ) .

Imam Ahmad bin Hambal Ra berkata mengenai sabda nabi SAW : “Allah nuzul ke langit dunia” atau “sesungguhnya Allah dapat dilihat di hari kiamat” dan nash-nash yang serupa dengan hadis-hadis ini : “Kami mengimaninya dan membenarkannya, TANPA KAIFIYYAH, TANPA MAKNA dan kami tidak menolak sedikitpun. Dan Kami mengetahui bahwa apa yg dibawa oleh Rasulullah SAW itu HAQ dan Kami tidak pernah menolak kepada Rasulullah SAW. Kami tidak menyifati Allah lebih dari apa yang Allah sifatkan pada diri-NYA sendiri dengan TANPA HAD (batasan) dan GHOYAH (puncak akhiran). Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat… dst

ﻟﻤﻌﺔ ﺍﻻﻋﺘﻘﺎﺩ - ( ﺝ 1 / ﺹ 4 )
ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺑﻮ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺩﺭﻳﺲ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ : ﺁﻣﻨﺖ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺑﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﻋﻦ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻋﻠﻰ ﻣﺮﺍﺩ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻭﺁﻣﻨﺖ ﺑﺮﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻭﺑﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺮﺍﺩ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ .

Imam Syafi’i Ra berkata : Aku beriman kepada Allah terhadap apa saja yang datang dari-NYA menurut APA YANG DIKEHENDAKI OLEH ALLAH, dan aku beriman kepada Rasulullah dan apa saja yang dibawa oleh Rasulullah MENURUT APA YANG DIKEHENDAKI OLEH RASULULLAH

- Al Imâm Ibnu Qudâmah Al Hambalî dalam kitab Tahrîmun Nazhar :

تحريم النظر في كتب الكلام - (ج 1 / ص 59)
 وأما إيماننا بالآيات وأخبار الصفات فإنما هو إيمان بمجرد الألفاظ التي لا شك في صحتها ولا ريب في صدقها وقائلها أعلم بمعناها فآمنا بها على المعنى الذي أراد ربنا تبارك وتعالى فجمعنا بين الإيمان الواجب ونفي التشبيه المحرم 
 وهذا أسد وأحسن من قول من جعل الآيات والأخبار تجسيما وتشبيها وتحيل على إبطالها وردها فحملها على معنى صفات المخلوقين بسوء رأيه وقبح عقيدته ونعوذ بالله من الضلال البعيد

Adapun keimanan kita kepada ayat-ayat dan khabar2 sifat, maka sesungguhnya hanya MURNI BERIMAN KEPADA LAFADZ-LAFADZ YANG TIDAK DIRAGUKAN KESAHIHANNYA DAN KEBENARANNYA, SERTA PENGUCAPNYA (ALLAH) ADALAH YANG MAHA MENGETAHUI MAKNANYA, maka KAMI MENGIMANINYA KEPADA MAKNA YANG DIKEHENDAKI OLEH RABB (TUHAN) KITA TABÂRAKA WA TA’ÂLÂ. Maka kita mengumpulkan antara keimanan yang wajib dan meniadakan tasybih yg diharamkan. Demikian inilah yang lurus dan lebih bagus dibandingkan dengan ucapan orang yg menjadikan ayat-ayat dan khobar-khobar tsb sebagai penjisiman, pentasybihan dan melakukan pembatalan serta menolaknya kemudian mengarahkannya ke makna sifat-sifat makhluk dengan sebab buruknya pendapat dan aqidahnya. Kami berlindung kepada Allah dari kesesatan yang jauh.

Sedang TAFWEEDH menurut Syaikh Ibnu Taimiyyah (w 728 H) yang diikuti oleh Wahabi Salafi, beliau berkata : 

فتبين أن قول أهل التفويض الذين يزعمون أنهم متبعون للسنة والسلف من شر أقوال أهل البدع والإلحاد 

“Maka menjadi jelaslah bahwa ucapan para penganut Tafwidh yang menyangka dirinya mengikuti sunnah, adalah merupakan sejelek-jelek ucapan ahli bid’ah dan ahli ilhad.” (Dar’ut Ta’arudhil Aqli Wan Naqli : 1/115)

Jadi yang berbeda adalah antara madzhab Hanbali dan madzhab Wahabi Salafi (yang mengikuti methode ITSBAT, yaitu menetapkan lafadz-lafadz nash namun masih memaknai sesuai dengan zhahir bahasa)..... 😁😁😁

Sekarang kita coba buktikan Madzhab Hanbali dan Madzhab Wahabi Salafy adalah berbeda :

Syaikh Abdul Qadir Al Jailani (bermadzhab Hanbali) berkata :

فالاستواء من صفات الذات كالسمع.. والحياة

Istiwa adalah sebagian dari sifat-sifat dzat, seperti sifat mendengar,.. dan sifat hidup..
Kitab Al Ghunyah.

Aqidah Syaikh Abdul Qadir meyakini istiwa adalah sifat dzat. Sifat dzat itu azaliyah (tidak berawwal), sama seperti sifat hidup. Jika Allah memiliki sifat hidup sebelum Arsy diciptakan, maka sama halnya sifat istawa sudah ada sebelum Arsy diciptakan. Mustahil dong maknanya tinggi berada di atas, khan di zaman azali tidak ada arah atas, bawah, kiri, kanan dsb. Masa gitu aja ga faham... ??? 🤣🤣🤣

Sedangkan Ibnu Utsaimin (bermanhaj Wahabi Salafy) mengatakan Istawa sifat perbuatan yang muhdats (baru). Tidak ada istawa sebelum Arsy diciptakan :

ﻓﺎﻟﺬاﺗﻴﺔ: ﻫﻲ اﻟﺘﻲ ﻟﻢ ﻳﺰﻝ ﻭﻻ ﻳﺰاﻝ ﻣﺘﺼﻔﺎ ﺑﻬﺎ ﻛﺎﻟﺴﻤﻊ ﻭاﻟﺒﺼﺮ.
ﻭاﻟﻔﻌﻠﻴﺔ: ﻫﻲ اﻟﺘﻲ ﺗﺘﻌﻠﻖ ﺑﻤﺸﻴﺌﺘﻪ ﺇﻥ ﺷﺎء ﻓﻌﻠﻬﺎ، ﻭﺇﻥ ﺷﺎء ﻟﻢ ﻳﻔﻌﻠﻬﺎ ﻛﺎﻻﺳﺘﻮاء ﻋﻠﻰ اﻟﻌﺮﺵ،

Sifat dzatiyyah adalah sifat yang azaliyah )tiada awwwal), yang disifati dengannya seperti mendengar dan melihat.
Dan sifat fi'liyyah perbuatan adalah sifat yang terkait dengan kehendaknya, jika berkehendak Allah melakukannya, jika tidak berkehendak Allah tidak melakukannya, seperti istiwa alal Arsy.
Kitab Majmu' Fatawa. Hal. 15. Juz 5.

ﻓﺎﻻﺳﺘﻮاء ﻋﻠﻰ اﻟﻌﺮﺵ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺇﻻ ﺑﻌﺪ ﺧﻠﻖ اﻟﻌﺮﺵ،

Istiwa alal arsy tidak ada kecuali sesudah penciptaan Arsy.
Kitab Majmu Fatawa. Hal. 125. Juz 1.

Itu artinya menurut Ibnu Utsaimin tidak ada sifat istiwa sebelum Arsy diciptakan. Tidak bisa disamakan dengan sifat hidup. Yang demikian karena menurut Ibnu Utsaimin makna istawa itu adalah 

في جهة العلو 

berada di arah ketinggian (berada di arah atas) secara hakiki.

Sedangkan Syaikh Abdul Qadir tidak pernah menjelaskan makna istiwa demikian.

Yang ditolak Syaikh Abdul Qadir hanyalah masalah takwil. Karena syaikh menghendaki memutlakkan sifat istawa (menetapkan sesuai lafadz yang ada disertai mensucikannya dari makna-makna hadits)

وينبغي إطلاق صفة الاستواء من غير تأويل وإنه استواء الذات على العرش

Dan seyogyanya memutlakkan sifat istiwa dengan tanpa takwil dan sesungguhnya Allah beristiwa dzatnya di atas arsy.
Kitab Al Ghunyah.

Syaikh berkata seyogyanya, bukan wajib.
Artinya syaikh tidak mewajibkan umat muslim menempuh jalannya. Karena syaikh mengetahui sebagian ahlussunnah mentakwil istiwa.

Faham atau tidak ??? 🤣🤣🤣

Wallaahu a'lam.....

____________
NB: Ulasan di atas ditulis oleh Gus Dodi di lapaknya sebagai sanggahan atas tulisan Ibu Gayatri yang mengkritik tulisan saya sebelum ini tentang Akidah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, sebagaimana di SS. Saya bagikan di sini sebagai arsip (aslinya daripada capek nulis sendiri kan lebih baik copas. Hahaha... )

SAFINATUN NAJAH

More »