Kelas Iqra', usia TK dan SD kelas 1

Anak-anak dibimbing sungguh2, belajar baca Al-Qur'an dari NOL, mulai dari mengenal HURUF. Pengajaran Semi Private. Sambil menunggu temannya, setiap anak haruf aktif membaca sendiri2. Yg sudah diajari juga harus mengulang2 bacaan. Tidak boleh behennti. Tidak ada istilah CAPEK.

Belajar Menulis Arab dan Menghafal

Tidak hanya belajar membaca, juga belajar menulis Arab, belajar menghafal dua kalimat syahadah, doa-doa, kalimat2 thoyyibah, dsb.

Mereka Tabungan Akhirat Kita

Mereka adalah tabungan akhirat kita. Dunia adalah tempat bercocok tanamnya akhirat. Semoga mereka menjadi anak-anak yang sholeh-sholehah, yang paham ilmu agama Islam dan bisa mengajarkannya. Menjadi kebanggaan Rasulullah, kebanggaan guru dan orang tuanya. Berguna dimanapun berada. Amin.

Safinatun Najah dan Sullamut Taufiq

Dua kitab wajib sebagai mata pelajaran. Safinah untuk fiqih dasar dan Sullam yang berisi Aqidah/Tauhid, Fiqih dan Akhlaq sebagai lanjutan. Disamping pelajar lain seperti Aqidatul Awam (aqidah), Alala (akhlak) dan Tajwid.

Ngaji Subuh khusus Fiqih

Semoga program ngaji shubuh ini bisa terus berlanjut dan istiqomah dan mendapat dukungan dari para orang tua (wali). Banyak sekali manfaat dan berkah di waktu shubuh.

Dibuka Pendaftaran Ngaji Kapan Saja

Bisa daftar ngaji kapan saja, yang penting ada niat sungguh-sungguh ingin belajar atau mendidik anak.

Tampilkan postingan dengan label Sholawat Nariyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat Nariyah. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juli 2022

BENARKAH SHOLAWAT NARIYAH MENJURUS PADA KESYIRIKAN?

BENARKAH SHOLAWAT NARIYAH MENJURUS PADA KESYIRIKAN?

Lucu juga penulis tulisan dalam website Muhammadiyah yang saya screenshot ini! 

Dia menyebut bahwa sholawat Nariyah dapat menjurus pada kesyirikan hanya gara-gara ada redaksi bahwa NABI MUHAMMAD ADALAH SEBAB atas terbukanya kesulitan dan terkabulnya hajat-hajat. 

Sepertinya, penulis masih kaku dalam memahami teks-teks Arab, atau memang dia tidak paham bahasa Arab, sehingga dia salah paham pada maksudnya. Seakan-akan, sholawat Nariyah itu berisi keterangan bahwa BUKAN ALLAH yang membuka kesulitan dan BUKAN ALLAH yang mengabulkan permohonan, tapi RASULULLAH SAW. Itu kesimpulan yang sangat gegabah! 

Padahal, jelas-jelas teks dalam sholawat Nariyah menggunakan wazan انفعل yang berfaedah memiliki makna MENJADI.

Jadi, disana itu ada 3 :

1. Pelaku yang menjadikan
2. Sebab
3. Objek yang dijadikan

Lebih mudahnya saya contohkan dalam bahasa Indonesia:

👉 UDIN MENJADI KENYANG SEBAB MAKAN

Siapa yang sebenarnya menjadikan Udin kenyang? 
👉 Allah

Sebab apa Udin kenyang? 
👉 Sebab makan

Apa objek yang dibuat kenyang? 
👉 Perut Udin 😁

Perhatikan! 

تنحل به العقد 

"Ikatan-ikatan MENJADI TERURAI SEBAB DIA"

تنفرج به الكرب 

"Kesulitan-kesulitan MENJADI HILANG SEBAB DIA"

Pertanyaan saya: 

Jika Nabi menjadi SEBAB TERURAINYA ikatan-ikatan, maka siapa yang MENJADIKAN TERURAI? Pastinya, ya Allah!

Jika Nabi menjadi SEBAB HILANGNYA KESULITAN-KESULITAN, maka siapa yang MENGHILANGKAN KESULITAN? Pastinya, ya Allah!

Bahkan, ada redaksi mabni majhul dalam sholawat Nariyah, yaitu: 

وتقضى به الحوائج 

"Dan SEBAB DIA maka hajat-hajat DIKABULKAN"

Siapa yang mengabulkan? 
Siapa lagi kalau bukan Allah?

وتنال به الرغائب 

"Dan SEBAB DIA maka segala CITA-CITA DICAPAI"

Siapa yang membuat cita-cita tercapai? 
Siapa lagi kalau bukan Allah?

Nabi Muhammad hanya menjadi sebab, bukan pelaku.

Apakah penulis itu tidak pernah membaca Al Qur'an: 

فذوقوا العذاب بما كنتم تكفرون

"Rasakanlah siksa SEBAB perbuatan kafir kalian" 

Jadi, perbuatan kafir saja dapat menjadi SEBAB seseorang disiksa. Apakah penulis tersebut mau menuduh ayat ini menjurus pada kesyirikan karena menyebut bahwa PERBUATAN KAFIR adalah SEBAB adanya siksa, bukan ALLAH? 

Bahkan ada ayat yang isinya "Double Kill" terhadap pikiran penulis tersebut, yaitu ayat: 

انما استزلهم الشيطان ببعض ما كسبوا

"Hanya saja SETAN MENTERGELINCIRKAN mereka SEBAB sebagian apa yang mereka lakukan"

Dalam ayat itu jelas tertulis dua kesimpulan: 

1. SETAN MENTERGELINCIRKAN 
2. Perbuatan salah menjadi SEBAB terjadinya SETAN MENTERGELINCIRKAN

Apakah penulis tersebut mau menuduh ayat itu  akan menjurus pada kesyirikan karena meyakini bahwa TIDAK ADA YANG MENTERGELINCIRKAN siapapun kecuali hanya Allah? 

Bahkan, seandainya pun Nabi Muhammad disebut sebagai pelaku, seperti: Al Qasim (Sang Pembagi), As Syaafi' (Sang Pemberi Syafaat), maka juga tidak masalah sebagaimana Nabi Muhammad didalam Al Qur'an juga seringkali disebut sebagai: 

البشير 

"Pemberi kabar baik"

النذير 

"Pemberi kabar buruk"

Apakah penulis itu mau protes, "Oh, ini menjurus pada kesyirikan karena Al Basyir dan An Nadzir (Pemberi kabar baik dan Pemberi kabar buruk ) hanyalah Allah. Padahal, Allah sendiri yang menyebut didalam Al Qur'an: 

إنا أرسلناك بالحق بشيرا ونذيرا 

"Sesungguhnya kami mengutus kamu (Hai, Muhammad) secara benar sebagai BASYIR dan NADZIR"

Apakah dia berani menyebut bahwa ayat ini menjurus pada kesyirikan? 

Dan, sebenarnya hal seperti ini sudah biasa dalam bahasa Arab, misalnya: 

Muhammad Al Faatih (Sang Pembuka) 

Apakah penulis juga berpikir bahwa julukan itu menjurus pada kesyirikan karena hanya Allah Al Faatih, bukan yang lain? 

Wallahu a'lam...

FB: Saiful Anwar

SAFINATUN NAJAH

More »