Rabu, 02 September 2020
Jumat, 28 Agustus 2020
Macam-macam Idghom: Mutamatsilain, Mutajanisain dan Mutaqoribain
Idghom Mutamatsilain, Mutajanisain, dan Mutaqoribain.
Pembahasan
idghom di sini bukan spesifik pada huruf terntentu seperti pada
pembahasan nun mati dan mim mati. Huruf hijaiyah apabila berdampingan
dan kedua huruf tersebut ada hubungan dekat dalam makhroj dan sifat maka
terkena hukum idghom.
Idghom secara bahasa adalah (اَلْإدْخَالُ) yang artinya memasukkan. Sedangkan secara istilah adalah:
Sumber copas: https://hahuwa.blogspot.com/2017/01/idghom-umum.html
6 Kaidah Rasm Utsmani (Kaidah Penulisan Al-Qur'an)
Kaidah Rasm Utsmani | Khath Utsmani | Rasmul Qur'an
Rasm bisa
diartikan atsar (bekas), khat (tulisan) atau metode penulisan. Rasm
Utsmani atau disebut juga Rasmul Qur’an adalah tata cara penulisan Al-Qur’an
yang ditetapkan pada masa khlalifah Utsman bin Affan. Istilah Rasmul Qur’an diartikan
sebagai pola penulisan al-Qur’an yang digunakan Ustman bin Affan dan
sahabat-sahabatnya ketika menulis dan membukukan Al-Qur’an. Yaitu mushaf yang
ditulis oleh panitia empat yang terdiri dari Mus bin zubair, Said bin Al-Ash,
dan Abdurrahman bin Al-harits. Mushaf Utsman ditulis dengan
kaidah tertentu.
Sumber copas: https://hahuwa.blogspot.com/2019/02/6-kaidah-rasm-utsmani-kaidah-penulisan.html
Bacaan Gharib; Shod Dibaca Sin (Tinjauan Bahasa, Qiro'ah dan Rasm)
Bacaan Gharib; Shod Dibaca Sin (Tinjauan Bahasa, Qiro'ah dan Rasm)
Bacaan gharib
shad dibaca sin, Shad dibaca sin dibedah secara bahasa, qira'ah dan rasm.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya akan membedah masalah shad yang dibaca sin dengan penjelasannya. Penjelasannya ditinjau dari segi bahasa (lughah), qiraah dan penulisan (rasm). Sebelum berlanjut, berikut ketentuan shad yang dibaca sin:
Dalam kaidah rasm utsmani nomor 6 disebutkan bahwa apabila ada satu kata yang dibaca berbeda oleh para ahli qiraat, maka ditulis salah satunya mengikuti jumhur atau yang paling banyak digunakan. Berdasarkan kaidah tersebut, didapati bahwa sebagian besar ulama ahli qiraat membaca kata (يَبْسُطُ), (بَسْطَةً), (الْمُسَيْطِرُونَ), (بِمُسَيْطِرٍ) dan (السِّرَاطَ) dengan shad.
Dalam penulisan kata (بِمُصَيْطِرٍ) dan (الصِّرَاطَ) tidak ada sin di bawah maupun di atas shad karena bacaan riwayat Imam Hafsh sesuai dengan tulisannya dan tidak pilihan lain. namun dalam bacaan qiraah yang lain ada yang membacanya dengan sin dan adapula dengan isymam antara shad dan zay.
Sumber copas: https://hahuwa.blogspot.com/2019/03/bacaan-gharib-shad-dibaca-sin-tinjauan.html?m=1
Bacaan Saktah dalam Qiro'ah Ashim dan Cara Bacanya
Bacaan Saktah dalam Qiro'ah Ashim dan Cara Bacanya
Mungkin dari kita masih ada yang belum mengetahui tengtang hukum saktah dan bagaimana cara menerapkannya. Untuk itu, saya membuat postingan tentang hukum saktah dalam ilmu tajwid.
”Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al kitab (Al-Quran) dan Dia tidak Mengadakan kebengkokan di dalamnya (1). Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik (2)”.
Apabila kita waqof di akhir ayat satu maka tidak berlaku hukum saktah. Hukum berlakunya ketika diwashol/disambung dari ayat satu sampai ayat dua.
”Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! siapakah yang membangkitkan Kami dari tempat tidur Kami (kubur)?”. Inilah yang dijanjikan (Tuhan) yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul-Nya.”
Saktah pada kata (مَرْقَدِنَا) lalu dilanjutkan ke (هَذَا). Faidah adanya saktah pada ayat ini ialah menjelaskan bahwa perkataan orang-orang kafir berhenti (مَرْقَدِنَا) dan dari (هَذَا) adalah perkataan Malaikat. Sehingga (هَذَا) bukan sifat/naat dari (مَرْقَدِنَا) melainkan jadi mubtada’. Cara membaca ayat ini ada dua pilihan yaitu waqof dan washol. Apabila waqof maka berhenti di kata (مَرْقَدِنَا) dan ibtida’ dari kata (هَذَا). Apabila diwasholkan maka diberlakukan hukum saktah.
==============
Sumber copas: https://hahuwa.blogspot.com/2017/01/bacaan-saktah-dalam-qiroat-ashim.html?m=1














